INDUKSI KETAHANAN CABAI (Capsicum annuum L.) TERHADAP KUTU KEBUL (Aleurotrachelus trachoides) (HEMIPTERA: ALEYRODIDAE) DENGAN RIZOBAKTERI INDIGENOS TERSELEKSI
SKRIPSI
OLEH
FEBRY UTAMI 1210211005
Dosen Pembimbing : 1. Prof. Dr. Ir. Trimurti Habazar
2. Dr. Hasmiandy Hamid, SP, MSi
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2018
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Cabai
(Capsicum annuum L.) termasuk
komoditas hortikultura yang dapat digunakan sebagai rempah maupun untuk
sayuran, karena mengandung gizi, seperti kalori, protein, lemak, kalsium,
vitamin A, B1 dan vitamin C (Prayudi, 2010). Produktivitas cabai di
Indonesia lima tahun terakhir relatif stabil pada tahun 2012 7,93 ton/ha, tahun 2013 8,16 ton/ha, tahun 2014
8,35 ton/ha, tahun 2015 8,65 ton/ha, dan tahun 2016 8,47 ton/ha. Produktivitas
cabai yang cenderung sama juga dilaporkan di Sumatera Barat, yaitu tahun 2012
8,63 ton/ha, tahun 2013 8,18 ton/ha, tahun 2014 7,84 ton/ha, tahun 2015 8,12
ton/ha, dan tahun 2016 7,62 ton/ha (Badan Pusat Statistik, 2018). Produktivitas tersebut masih
tergolong rendah apabila dibandingkan dengan produktivitas optimal cabai merah
dapat mencapai 13 sampai 17 ton/ha (Nixon, 2010). Rendahnya
produktivitas cabai ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya
faktor biotis dan abiotis. Faktor biotis meliputi patogen penyebab penyakit
tanaman dan hama (Warisno, 2010).
Hama
utama yang mengakibatkan kerugian yang besar pada tanaman cabai yaitu thrips (Thrips parvispinus
Karny), lalat buah (Bactrocera spp.),
kutu kebul (Bemisia tabaci), kutu daun persik (Myzus persicae), kutu daun (Aphididae),
tungau (Polyphagotarsonemus latus dan Tetranychus) (Meilin, 2014) Spodoptera litura (BPTP Yogyakarta, 2007). Penurunan hasil oleh T. parvispinus, dan P.
latus sebesar 23% (Pitijo, 2004), oleh Aphididae
10-40% (Balfas, 2005), Bactrocera spp., mencapai 94,4% (Arief, 2009), B. tabaci 20 – 100 %
(Gunaeni, 2014), M. persicae hingga
80% (Rukmana, 2010), dan S. litura mencapai 40% (Marwoto dan
Suharsono, 2008).
Upaya pengendalian hama sampai saat ini masih menggunakan
insektisida sintetik karena praktis, mudah diperoleh, dan menunjukkan efek yang
cepat, akan tetapi insektisida tersebut menimbulkan dampak negatif antara lain;
(1)
hama menjadi kebal (resisten), (2) peledakan hama (resurgensi), (3) penumpukan residu bahan kimia di dalam hasil panen
dan tanah, dan (4) terbunuhnya musuh alami (Purwantisari, 2008). Salah
satu alternatif pengendalian yang ramah lingkungan yaitu pengendalian hayati.
Pengendalian
hayati pada dasarnya adalah pemanfaatan dan penggunaan musuh alami untuk
mengendalikan populasi hama yang merugikan. Pengendalian hayati sangat
dilatarbelakangi oleh berbagai pengetahuan dasar ekologi terutama teori tentang
pengaturan populasi oleh pengendali alami dan keseimbangan ekosistem. Musuh
alami yang terdiri atas parasitoid, predator dan patogen merupakan pengendali
utama hama yang bekerja secara “terkait kepadatan populasi” sehingga tidak
dapat dilepaskan dari kehidupan dan perkembangbiakan hama (Untung, 2006).
Parasitoid merupakan serangga yang memarasit serangga atau binatang arthropoda
yang lain. Parasitoid bersifat parasitik pada fase pradewasanya sedangkan pada
fase dewasa mereka hidup bebas tidak terikat pada inangnya. Predator merupakan
organisme yang hidup bebas dengan makanan, membunuh atau memangsa binantang
lainnya.
Rizobakteri telah banyak
diaplikasikan untuk pengendalian penyakit tanaman, diantaranya yaitu; Khaeruni et al.
(2011) menunjukkan rizobakteri indigenos mampu mengendalikan Phytopthora capsici tanpa menunjukkan
gejala (tingkat keparahan 0%). Yanti et
al. (2013) yang menunjukkan hampir semua isolat rizobakteri dari perakaran
tanaman kedelai (indigenos) mampu mengendalikan pustul bakteri dengan
efektifitas mencapai 77,48%. Kemudian hasil penelitian Khaeruni
et al. (2014) berpendapat bahwa aplikasi
formula rizobakteri indigenos efektif menekan penyakit busuk akar rhizoctonia
pada tanaman kedelai. Selanjutnya,
Yanti, et al. (2017), mengemukakan
bahwa formula B. thuringiensis TS2 dengan berbagai
bahan pembawa dan disimpan sampai 6 minggu setelah diintroduksi pada benih
kedelai menunjukkan kemampuan yang relatif stabil dalam menekan perkembangan
penyakit pustul bakteri. Kemudian Syamsuddin
dan Ulim (2013) mengemukakan bahwa rizobakteri isolat RBBM36, RBBM1 8
dan RBBM35 memiliki kemampuan dalam menghambat pertumbuhan koloni patogen
cendawan P. capsici. Quintao et
al. (2015) melaporkan lima isolat rizobakteri yang diisolasi dari rizosfir
tanaman padi yaitu Xanthomonas lumininescens isolat Ch3Da, Serratia
liquefaciens isolat Gh13DaB, Enterobacter agglomerans isolat
Gg14DtB, Enterobacter agglomerans isolat Ch2Da, dan Enterobacter
agglomerans isolat Ch4BaB dapat menghambat pertumbuhan jamur Pyricularia
oryzae pada media PDA
Penelitian pengendalian hayati terhadap
hama masih terbatas dilakukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi PGPR dapat
menekan pertumbuhan pupa dan serangga dewasa Helicoverpa armigera Huebner (Lepidoptera: Noctuidae) hingga 60%
(Bong dan Sikorowski, 1991 dalam Ramamoorthy et al., 2001). Zehnder et al.
(2001) melaporkan bahwa aplikasi PGPR dapat mengurangi kerusakan pada kotiledon
dan batang tanaman mentimun oleh kumbang mentimun. Perlakuan rizobakteri Pseudomonas fluorescens pada tanaman Arabidopsis
thaliana mempengaruhi kenaikan berat
tubuh Myzus persicae (Pineda et al., 2012), tetapi kombinasi mikroba
dengan tanaman yang sama tidak mempengaruhi perkembangan larva Spodoptera exigua (Van Oosten et al.,
2008). Aplikasi PGPR juga mempengaruhi perilaku peletakan telur oleh S. exigua.
Hama ini lebih banyak meletakkan telur pada tanaman kapas tanpa perlakuan
dibandingkan dengan tanaman kapas yang diberi perlakuan PGPR (Nangle, 2012).
Berdasarkan
hal tersebut, maka dilakukan penelitian berjudul
“Induksi Ketahanan Cabai (Capsicum
Annuum L.) terhadap Kutu Kebul (Aleurotrachelus
Trachoides) (Hemiptera: Aleyrodidae) dengan Rizobakteri Indigenos
Terseleksi”.
B. Tujuan
Tujuan
penelitian untuk mendapatkan isolat rizobakteri indigenos terseleksi yang mampu
meningkatkan ketahanan cabai terhadap kutu kebul dan meningkatkan pertumbuhan
serta hasil cabai.full text :: https://drive.google.com/file/d/1gHhNXCf4mKMNxLRoE_R4XtzQQsSVmwdM/view
bagi yang download pdf diatas harap tinggalkan komentar yaaa... :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar